Rabu, 30 April 2014

Profil Club Fulham


Lambang Fulham FC























Nama lengkap Fulham Football Club
Julukan The Cottagers, The Whites, The Lilywhites.
Didirikan 16 Agustus 1879; 134 tahun yang lalu (sebagai Fulham St Andrew's Church Sunday School)
Stadion Craven Cottage,
Fulham, London
(Kapasitas: 25,700[1])
Pemilik Bendera Pakistan Shahid Khan[2]
Ketua Bendera Pakistan Shahid Khan[2]
Manajer Bendera Belanda René Meulensteen
Liga Liga Utama Inggris
Posisi 2012–13 ke-12, Liga Utama Inggris



Sejarah Club Fulham

Fulham merupakan tim profesional tertua di Kota London. Klub ini dibentuk tahun 1879 dengan nama Fulham St Andrew’s Church Sunday School. Fulham didirikan oleh para jemaat gereja di West Kensington. Hingga saat ini gereja tersebut masih ada dengan sebuah plakat di pintu masuk yang memperingati tim tersebut. Nama klub kemudian dipersingkat semenjak tahun 1888 dengan nama Fulham.

Fulham mulai bermain di Craven Cottage tahun 1896 dan mendapatkan status profesionalnya pada 12 Desember 1898. The Cottagers bermain dengan baju putih dan celana hitam yang diketahui telah digunakan semenjak tahun 1903.

Pencapaian Fulham pada ajang Premier League bisa dikatakan sebagai sebuah prestasi dalam pasang surutnya di dasawarsa 1990-an. Mereka sempat degradasi hingga divisi tiga pada 1994 dan dua tahun kemudian berada pada urutan 17 dari 24 tim.

Akan tetapi ditunjuknya Mickey Adams membuat The Cottagers bisa promosi kembali serta dua promosi selanjutnya oleh Kevin Keegan dan Tigana membawa Fulham menanjak dengan cepat ke posisi atas. Dengan hanya 1000 pemegang tiket musiman dan tujuh orang staf selama dasawarsa 1990-an, transformasi yang dilakukan Fulham merupakan sebuah prestasi yang pantas dihargai. 

Tahun 1997 klub ini dibeli oleh pengusaha asal Mesir Mohamed Al Fayed yang kelak membawa perubahan ke Craven Cottage. Musim 2000/2001 Fulham bermain untuk pertama kali di kasta teratas Liga Inggris Premier League dan di musim perdana berakhir di posisi 13 klasemen.

Meskipun belum pernah menjuarai Liga Inggris, tahun 2010 Fulham nyaris menjadi Juara Europa League namun dikalahkan oleh Atletico Madrid di babak tambahan waktu. Sejauh ini final di Hamburg merupakan raihan terbaik Fulham di kancah Eropa.


Prestasi


Skuad Fulham

Kostum Club Fulham


Craven Cottage Stadium









Profil Club Hull City


Hull City.svg






















Nama lengkap Hull City Association Football Club
Julukan The Tigers
Didirikan 1904
Stadion KC
Kingston upon Hull
(Kapasitas: 25,586[1])
Ketua Assem Allam
Manajer Steve Bruce
Liga Liga Utama Inggris
Posisi 2012–13 ke-2, Liga Championship
(promosi ke Liga Utama Inggris


Sejarah Singkat Club Hull City

Tradisi rugby lebih mengakar di kota Hull ketimbang sepakbola, sehingga masyarakat Inggris Raya lebih mengenal Hull melalui klub-klub rugby mereka, Hull FC atau Hull KR. Musim 2007/08, semuanya berubah. Kesuksesan Hull City menembus Liga Primer membuktikan Hull tidak hanya memiliki tim rugby yang kuat, tetapi juga di cabang sepakbola. Sukses Tigers menjadikan Hull menyusul kota-kota besar lainnya di Inggris yang memiliki wakil di Liga Primer.

Berdiri pada 1904, musim pertama Hull sebagai klub sepakbola profesional dilalui dengan partai-partai persahabatan karena klub tidak mendapatkan keanggotaan untuk mengikuti Football League. Partai resmi pertama mereka dilalui di Piala FA, saat menghadapi Stockton pada babak penyisihan. Hull kalah 7-4. Setelahnya, Hull menjadi tim yang sering naik turun divisi. Prestasi yang dapat mereka banggakan adalah saat menembus semi-final Piala FA 1929/30. Kesulitan finansial pada 1980-an membuat Hull terbenam di Divisi Empat.

Kebangkitan Hull ditandai dengan pembelian klub oleh bekas petenis, David Lloyd, pada 1997. Setahun kemudian, Lloyd melepas kepemilikan ke sebuah konsorsium asal South Yorkshire, meski masih memegang kepemilikan markas klub, stadion Boothferry Park. Kepemilikan klub kembali berpindah tangan setelah eks direktur komersil Leeds United, Adam Pearson, membeli saham klub musim 2001/02. Pearson sukses mengubah wajah Hull. Setelah pindah ke stadion baru, Kingston Communications, Hull akhirnya sukses melewati Divisi Tiga pada 2003/04. Secara ajaib, musim berikutnya Hull menempati runner-up League One dan promosi ke Championship. Akhirnya, di bawah Phil Brown, Hull berhasil menorehkan sejarah musim 2007/08 dengan memenangi partai play-off. Di Wembley, Hull sukses mengatasi Bristol City dan untuk kali pertama dalam sejarah bermain di Liga Primer.

Skuad dan Official hull City

Kostum Club Hull City


kingston Upon Stadium












Profil Club Liverpool

Lambang Liverpool F.C.




















Nama lengkap Liverpool Football Club
Julukan The Reds
Didirikan 15 Maret 1892; 122 tahun yang lalu
Stadion Anfield
(Kapasitas: 45,522[2])
Pemilik Bendera Amerika Serikat Fenway Sports Group
Ketua Bendera Amerika Serikat Tom Werner
Manajer Bendera Irlandia Utara Brendan Rodgers
Liga Liga Utama Inggris
Posisi 2012–13 ke-7, Liga Utama Inggris

Sejarah Club Liverpool

Liverpool Football Club (dikenal pula sebagai Liverpool atau The Reds) adalah sebuah klub sepak bola peserta Liga Utama Inggris. Liverpool adalah klub tersukses dalam sejarah persepakbolaan Inggris yang bermarkas di kotaLiverpool. Liverpool telah memenangkan 5 trofi Liga Champions (dulu Piala Champions), yang merupakan rekor Inggris.18 gelar Liga Inggris, 7 Piala FA, serta, 7 kali juara Piala Liga. Stadion mereka berada di Anfield, yang terletak sekitar 4,8 km dari pusat kota Liverpool.

Sejarah

Kejayaan Liverpool bersama Bill Shankly dilanjutkan Bob Paisley yang pada saat itu berusia 55 tahun. Dia menjabat sebagai manajer Liverpool FC dari tahun 1974 sampai 1983 dan hanya pada awal tahun Bob Paisley tidak dapat memberikan gelar untuk Liverpool FC. Selama 9 tahun Bob Paisley menjabat sebagai manajer Liverpool FC, beliau memberikan total 21 tropi, termasuk 3 Piala Champion, 1 Piala UEFA, 6 juara Liga Inggris dan 3 Piala Liga secara berturut-turut. Dengan semua gelar itu tidak salah bila Bob Paisley menjadi manajer tersukses yang pernah menangani klub Inggris. Tidak hanya sukses memberikan gelar untuk Liverpool FC, tetapi Bob Paisley juga sukses dalam melakukan regenerasi di tubuh Liverpool FC dengan tampilnya para bintang muda seperti: Graeme Souness, Alan Hansen, Kenny Dalglish dan Ian Rush. Walaupun Bob Paisley akan mewariskan sebuah skuat muda yang sangat hebat dan berbakat, tetapi dengan semua torehan gelar itu akan menjadi sangat berat buat siapapun penerusnya.

Sebagai penerus Bob Paisley yang pensiun di tahun 1983, Joe Fagan yang pada saat itu berusia 62 tahun, berhasil mempersembahkan treble buat Liverpool yaitu juara Liga, juara Piala Liga dan juara Piala Champion. Raihan ini menjadikan Liverpool FC sebagai klub sepakbola Inggris yang berhasil meraih 3 gelar juara sekaligus dalam 1 musim kompetisi. Sayangnya, catatan keemasan itu sedikit ternoda oleh insiden di stadion Heysel. Insiden yang terjadi sebelum pertandingan final Piala Champion antara Liverpool FC dan Juventus ini menewaskan 39 orang, sebagian besar adalah pendukung Juventus. Insiden ini mengakibatkan pelarangan bagi semua klub sepakbola Inggris untuk berkompetisi di Eropa selama 5 tahun. Dan Liverpool FC dilarang mengikuti semua kompetisi Eropa selama 10 tahun yang akhirnya dikurangi menjadi 6 tahun.

Pada masa kepemimpinan Kenny Dalglish, Liverpool FC dibawa menjadi juara Liga Inggris sebanyak 3 kali dan juara Piala FA sebanyak 2 kali, termasuk gelar ganda juara Liga Inggris dan juara Piala FA pada musim kompetisi 1985/86. Bila tidak terkena sangsi dari UEFA, bisa dipastikan Liverpool FC menjadi penantang serius untuk merebut Piala Champion pada saat itu. Kesuksesan Liverpool FC di masa kepemimpinan Kenny Dalglish kembali dibayangi kejadian mengerikan lainnya yaitu Tragedi Hillsborough. Pada pertandingan semi-final Piala FA melawan Nottingham Forrest tanggal 15 April 1989, ratusan penonton dari luar stadion memaksa masuk ke dalam stadion yang mengakibatkan Liverpudlian yang berada di tribun terjepit pagar pembatas stadion. Hal ini mengakibatkan 94 Liverpudlian meninggal di tempat kejadian, 1 Liverpudlian meninggal 4 hari kemudian di rumah sakit dan 1 Liverpudlian lainnya meninggal dunia setelah koma selama 4 tahun. Akibat Tragedi Hillsborough ini pemerintah Inggris melakukan penelitian kembali mengenai faktor keamanan stadion sepakbola di negaranya. Dikenal dengan sebutan Taylor Report, menyebutkan bahwa penyebab dari Tragedi Hillsborough ini adalah faktor penonton yang melebihi kapasitas stadion karena kurangnya antisipasi dari pihak keamanan. Akhirnya pemerintah Inggris mengeluarkan undang-undang yang mewajibkan setiap klub divisi I Inggris untuk meniadakan tribun berdiri. Setelah menjadi saksi hidup dari tragedi mengerikan Heysel dan Hillsborough, 'King' Kenny Dalglish tidak pernah bisa lepas dari trauma yang menghinggapi dirinya. Akhirnya pada tanggal 22 Februari 1990 beliau mengumumkan pengunduran dirinya sebagai manajer Liverpool FC. Pengumuman yang sangat mengejutkan dunia sepakbola pada saat itu, karena Liverpool FC sedang bersaing ketat dengan Arsenal dalam perebutan gelar Liga Inggris. Alasan yang disebutkan oleh Kenny Dalglish pada saat itu adalah tidak bisa lagi menghadapi tekanan dalam menahkodai Liverpool FC. Selama beberapa minggu Liverpool FC ditangani oleh pelatih tim utama Ronnie Moran sebelum akhirnya Liverpool FC menunjuk Graeme Souness sebagai manajer berikutnya. 'King' Kenny Dalglish kemudian dikenang sebagai legenda terhebat Liverpool FC karena sangat sukses baik sebagai pemain maupun manajer.

Perginya 'King' Kenny Dalglish dan 2 tragedi yang mengerikan ( Heysel dan Hillsborough ) sepertinya memberikan trauma, hukuman atau kutukan yang mendalam bagi Liverpool Football Club. Kedatangan Graeme Souness pun tidak mengubah peruntungan Liverpool FC. Walaupun Souness bisa memberikan gelar Piala FA pada tahun 1992, tetapi dengan kebijakan transfer pemain yang kurang baik dan penerapan strategi yang sedikit membingungkan menjadikan Liverpool tampil tidak konsisten pada musim itu. Hal lain yang memperburuk hubungan Souness dan Liverpudlian adalah ketika Souness menceritakan proses pemulihan kesehatannya pasca operasi jantung kepada koran The Sun. Seperti diketahui bahwa masyarakat di Merseyside memboikot koran The Sun yang sering memojokkan Liverpudlian mengenai tragedi Hillsborough. Pada 28 Januari 1994 Graeme Souness akhirnya mengundurkan diri sebagai manajer Liverpool FC setelah tersingkir dari Piala Liga dan Piala FA. Pelatih Roy Evans ditunjuk sebagai manajer Liverpool FC selanjutnya. Liverpool FC berada di urutan ke 8 klasemen hasil terburuk selama 29 tahun terakhir. Walaupun secara raihan gelar juara Graeme Souness tidak sukses, tetapi pada masa kepemimpinannya banyak lahir talenta muda diantaranya : Robbie Fowler, Steve McManaman, Jamie Redknapp, Rob Jones dan David James.
Manajer Liverpool selanjutnya adalah pelatih senior Roy Evans yang sudah bersama Liverpool FC selama lebih dari 30 tahun. Pada musim 1994/95 Liverpool menduduki peringkat 5 Liga Primer Inggris dan berhasil menjuarai Piala Liga dengan mengalahkan Bolton Wanderers dengan skor 2-1. Roy Evans berhasil mengembalikan ciri khas permainan Liverpool yaitu 'pass and move'. Tetapi permainan apik dan indah Liverpool FC pada masa ini tidak diimbangi determinasi dan agresifitas yang memadai dari para pemainnya, sehingga Liverpool pada masa Roy Evans sering disebut 'Spice Boys'. Selain semakin matangnya pemain seperti : Robbie Fowler, Steve McManaman dan Jamie Redknapp, pada masa kepelatihan Roy Evans muncul bakat muda bernama Michael Owen yang berhasil mencetak 18 gol dan menjadi PFA Young Player of the Year Award pada tahun 1998.
Pada musim kompetisi 1998/99 Liverpool FC menarik pelatih asal Prancis Gerard Houllier untuk berpartner dengan Roy Evans sebagai 'joint manager'.  Pada tahun ini Liverpool FC berhasil meraih Piala Liga, Piala FA, Piala UEFA, Piala Charity Shield dan Piala Super UEFA. Keberhasilan ini memunculkan secercah harapan bagi Liverpool untuk dapat meraih gelar juara Liga Inggris yang terakhir diraih pada tahun 1990. Pada tahun 2003 Liverpool FC berhasil meraih Piala Liga dan menduduki peringkat ke 4 pada musim 1993/94 sehingga berhak mengikuti kualifikasi Liga Champions. Walaupun berhasil memberikan sejumlah gelar buat Liverpool FC, tetapi taktik bertahan yang diterapkan Gerard Houllier dianggap tidak bisa bersaing untuk meraih gelar Liga Inggris. Taktik bertahan dan mengandalkan serangan balik sangat mudah diantisipasi oleh lawan, sehingga pada 24 Mei 2004 Gerard Houllier digantikan oleh Rafael Benitez.

Rafael Benitez datang ke Liverpool FC setelah berhasil membawa Valencia menjadi juara Liga Spanyol 2 kali dan juara Piala UEFA. Harapan Liverpudlian untuk menjadi juara Liga Inggris kembali membumbung tinggi setelah Benitez berhasil membawa Liverpool FC menjuarai Liga Champions untuk yang ke 5 kalinya. Pada final yang dikenang sebagai partai terhebat sepanjang masa, Liverpool FC berhasil mengalahkan AC Milan setelah tertinggal 0-3 di babak pertama. Tetapi gol dari kapten Steven Gerrard, Vladimir Smicer dan penalti Xabi Alonso berhasil membawa Liverpool FC ke babak perpanjangan waktu dan adu penalti. Kiper Liverpool FC Jerzy Dudek menjadi pahlawan setelah berhasil menahan tendangan penalti Shevchenko. Kemenangan pada partai final Liga Champions inilah yang menjadi alasan kapten dan legenda hidup Liverpool FC Steven Gerrard untuk tidak pindah ke klub lain. Keputusan yang disambut gembira oleh para Liverpudlian. Liverpool FC kemudian dibawa Rafael Benitez untuk menjadi juara Piala Super Eropa dengan mengalahkan juara Piala UEFA CSKA Moskow dengan skor 3-1. Piala FA tahun 2006 menjadi piala terakhir yang dipersembahkan oleh Rafael Benitez untuk Liverpool FC. Dalam perjalanan menuju final piala FA, Liverpool FC mengalahkan Luton Town dengan skor 5-3, MU 1-0, Birmingham City 7-0 dan mengalahkan Chelsea 2-1 di semi-final. Di partai final Liverpool FC berhasil mengalahkan West Ham United dengan Steven Gerrard sebagai Man Of The Match. Steven Gerrard memberi umpan untuk gol pertama, melakukan tendangan voli untuk gol ke 2 dan melakukan tendangan jarak jauh yang fenomenal pada menit ke 91. Dengan skor 3-3 akhirnya pertandingan dilanjutkan dengan babak perpanjangan waktu dan adu penalti. Walaupun selama pertandingan kiper Pepe Reina beberapa kali melakukan kesalahan fatal, tetapi pada saat adu penalti berhasil menahan 3 dari 4 tendangan pemain West Ham United. Final Piala FA ini disebut sebagai 'Final-nya Gerrard' dan dicatat sebagai partai final terbaik di era modern Piala FA. Setelah memenangi Piala Community Shield tahun 2006 dan berhasil mencapai final Liga Champions 2007, musim-musim berikutnya menjadi musim tanpa gelar bagi Rafael Benitez dan Liverpool FC. Satu-satunya kabar yang menggembirakan bagi Liverpudlian adalah kembalinya 'King' Kenny Dalglish untuk membidani Liverpool FC Youth Academy pada tahun 2009. Akhirnya Rafael Benitez berhaenti pada tanggal 3 Juni 2010 dan digantikan oleh Roy Hodgson. Pada masa kepemimpinan Rafael Benitez, Liverpool FC mengalami 2 kali peralihan kepemilikan klub. Yang pertama pada tahun 2007 ketika dibeli oleh George Gillett and Tom Hicks dan pada tahun 2010 ketika Liverpool FC di ambil alih New England Sports Ventures milik John W. Henry.

1 Juli 2010 Roy Hodgson resmi menangani Liverpool FC selama tiga tahun. Pada keterangan pers Roy Hodgson mengatakan sangat bangga bisa menangani klub sebesar Liverpool FC dan tidak sabar untuk bertemu dengan para pemain, Liverpudlian dan ingin segera bekerja di Melwood. Tetapi situasi di Liverpool FC pada saat itu masih sangat tidak menentu karena sedang dalam masa peralihan kepemilikan. Hiruk pikuk berita tentang kebangkrutan klub dan proses peralihan yang berkepanjangan sangat memengaruhi suasana di Liverpool FC pada saat itu. Liverpool FC pun akhirnya mengawali musim 2010/11 dengan sangat buruk. Sampai pertengahan bulan Oktober Liverpool FC berada di zona degradasi dan kalah dari klub divisi II Northampton Town.
Tepatnya 8 Januari 2011 'King' Kenny Dalglish resmi menjabat sebagai manajer Liverpool FC untuk yang ke 2 kalinya.



Skuad dan official liverpool



Anfield Stadium

Kostum Liverpool